Meracik
Selasa pagi di lereng gunung terasa berbeda saat bel tanda pembiasaan berbunyi. Keheningan seketika pecah oleh riuh langkah kaki anak-anak berseragam batik khas Mojokerto. Bukannya berbaris kaku, mereka justru saling berebut buku bacaan dengan wajah ceria. Anak-anak ini berbondong-bondong mengambil posisi nyaman, duduk lesehan di lantai teras sekolah. Dalam hitungan menit, suasana riuh berganti senyap. Puluhan pasang mata mendadak terpaku khusyuk pada lembar-lembar buku penuh warna di tangan mereka.
Aktivitas unik ini bersumber dari "Terasi". Namun, Terasi di SDN Pandan, Pacet, ini bukanlah bumbu dapur beraroma tajam, melainkan akronim dari Teras Literasi. Pihak sekolah sengaja memilih nama yang menggelitik tersebut sebagai strategi branding agar program mudah diingat sekaligus memicu rasa penasaran murid.
Kepala SDN Pandan, Supono, S.Pd., mengungkapkan bahwa ide ini lahir dari sebuah keprihatinan. "Minat baca murid sempat turun drastis. Di sisi lain, buku-buku di perpustakaan belum dimanfaatkan secara maksimal karena kami belum memiliki tenaga pustakawan resmi," ujarnya. Kondisi itulah yang memicu pihak sekolah memindahkan isi perpustakaan langsung ke teras.
Setiap Selasa pagi, teras sekolah berubah menjadi ruang baca raksasa selama 30 menit emas sebelum bel pelajaran dimulai. Tanpa sekat bangku kelas yang kaku, murid dari berbagai tingkatan duduk santai berdampingan. Membaca bersama di koridor terbuka ini menciptakan efek psikologis yang luar biasa. Energi positif terpancar saat anak-anak melihat teman-temannya tekun membaca, mengubah kegiatan yang dulunya dianggap membosankan menjadi sebuah kegembiraan kolektif.
Agar konsistensi program ini tetap terjaga jangka panjang, SDN Pandan menerapkan manajemen logistik yang cerdas. Buku-buku bacaan menarik diletakkan langsung di tiap-tiap kelas, sehingga anak-anak tidak perlu mengantre lama di perpustakaan. Sekolah juga memberlakukan sistem rotasi buku secara berkala demi menjaga elemen kejutan bagi murid. Tidak ketinggalan, pemberian penghargaan atau reward disiapkan secara rutin untuk memotivasi anak agar semakin getol melahap lembar demi lembar cerita.
Program Terasi pun dirancang bukan sekadar agar anak bisa membaca, tetapi juga memahami esensinya. Aktivitas pascabaca diterapkan secara terukur sesuai tingkatan usia. Murid kelas bawah (1–3) diajak mengenali identitas buku secara sederhana dengan menuliskan judul, penulis, dan penerbit. Sementara itu, murid kelas tinggi (4–6) ditantang untuk merangkum dan menceritakan kembali isi buku menggunakan bahasa serta sudut pandang mereka sendiri. Langkah ini efektif melatih kemampuan berpikir kritis sejak dini.
Ketika bel masuk berbunyi, anak-anak dengan tertib merapikan kembali buku-buku mereka. Senyum merekah di wajah mereka, menandakan kesiapan penuh menerima pelajaran formal hari itu. Teras sekolah yang sederhana kini telah menjelma menjadi jendela dunia berkat sentuhan kreativitas. Program "Terasi" dari SDN Pandan terbukti sukses memberikan cita rasa baru yang segar dan menghidupkan kembali roh pendidikan dasar di lereng gunung.
Penulis : Jumari Irawanto, S.Pd





